Bukan Market Yang Menghancurkan Portofolio, Tapi Ego!

06 Oct 2026

Blogs

Bukan Market Yang Menghancurkan Portofolio, Tapi Ego!

Dalam investasi saham, pergerakan harga adalah bagian yang tidak bisa dihindari. Harga bisa naik, turun, bahkan bergerak jauh dari ekspektasi kita. Namun, sering kali tantangan terbesar bukan datang dari pergerakan market, melainkan dari bagaimana kita meresponsnya. Ketika keputusan investasi mulai dipengaruhi oleh ego dan emosi, strategi yang seharusnya terukur dapat berubah menjadi keputusan yang justru merugikan. Lalu, bagaimana ego dan emosi dapat memengaruhi keputusan investasi?

Ketika Averaging Down Dipengaruhi Ego

Ketika harga saham turun, salah satu respons yang sering dilakukan investor adalah averaging down. Strategi ini sebenarnya tidak salah, selama dilakukan berdasarkan evaluasi ulang terhadap fundamental perusahaan. Masalahnya muncul ketika pembelian dilakukan hanya karena harga semakin rendah. Misalnya, saham dibeli di Rp1.000 lalu turun ke Rp800, Rp600, hingga Rp400 dan terus ditambah tanpa melihat apakah kinerja bisnisnya masih sesuai dengan alasan awal membeli. Akibatnya, jumlah investasi justru semakin besar pada saham yang thesis investasinya mungkin sudah tidak valid.

Jangan Biarkan Ego Mempertahankan Keputusan yang Salah

Ego juga bisa membuat investor sulit menerima bahwa sebuah keputusan ternyata kurang tepat. Ketika saham turun, kita cenderung mencari alasan untuk mempertahankan keyakinan sebelumnya dan mengabaikan informasi yang tidak sesuai dengan pandangan kita. Sebaliknya, pengalaman mendapatkan keuntungan beberapa kali juga bisa membuat seseorang terlalu percaya diri dan mulai mengambil risiko lebih besar dari sebelumnya. Padahal, kondisi market dan perusahaan terus berubah sehingga keputusan yang sebelumnya tepat belum tentu masih tepat saat ini.

Emosi Juga Bisa Memengaruhi Keputusan Investasi

Selain ego, emosi juga sering memengaruhi keputusan investasi. FOMO dapat membuat investor membeli ketika harga sudah naik karena takut ketinggalan, sedangkan panic selling membuat investor menjual ketika harga turun tanpa mengevaluasi penyebabnya. Salah satu cara untuk mengurangi keputusan emosional adalah kembali ke alasan awal membeli saham dan melihat apakah fundamental, valuasi, serta prospek bisnisnya masih mendukung.

Evaluasi Ulang, Bukan Sekadar Melihat Harga

Karena itu, sebelum averaging down atau menjual saham yang sedang turun, sebaiknya lakukan evaluasi ulang, bukan sekadar melihat harga. Jika fundamental perusahaan masih baik dan valuasinya menarik, penurunan harga bisa menjadi kesempatan. Namun jika thesis investasinya sudah berubah, mempertahankan posisi hanya karena tidak ingin mengakui kesalahan justru bisa membuat kerugian semakin besar.

Pada akhirnya, menjadi investor bukan berarti harus selalu benar dalam setiap keputusan. Yang lebih penting adalah mampu mengevaluasi kembali keputusan ketika kondisi berubah dan tidak membiarkan ego maupun emosi mengambil alih strategi investasi.

Investasi bukan hanya tentang memahami bagaimana memilih saham, tetapi juga tentang memahami bagaimana mengambil keputusan ketika kondisi market tidak sesuai dengan harapan. Dengan pengetahuan yang cukup, Sobat Genvest dapat lebih bijak dalam mengevaluasi setiap keputusan investasi dan tidak mudah terbawa ego maupun emosi.

Yuk, terus tingkatkan pemahaman investasi Sobat Genvest melalui kelas edukasi #PastiPahamInvestasi. Cek jadwal kelas dan informasi selengkapnya melalui media sosial dan website resmi CGS International Sekuritas Indonesia, dan jangan lewatkan kesempatan untuk belajar dan memahami investasi lebih dalam. Karena semakin paham, semakin bijak kita dalam mengambil keputusan investasi.

floating-whatsapp

Persiapkan Masa Depan Anda
dengan CGS iTrade Fund.

Klik Di Sini Untuk Memulai Perjalanan Investasimu

logo

© PT CGS International Sekuritas Indonesia  

No. Izin OJK: S-231/PM.02/2024

No. Izin KOMINFO: 000964.06/DJAI.PSE/06/2023